Diambil dari berbagai pentas di seluruh Pulau Jawa.
Ki Catur Nugroho, S.Sn., M.Sn. Lahir di Boyolali, 26 September 1989. Alamat: Dempokan, Sambi, Boyolali. Pendidikan: S1 Seni Pedalangan dan S2 Pasca Sarjana ISI Surakarta. Pekerjaan: Dosen Pedalangan ISI SKA. Profesionalitas: Dalang wayang kulit kreatif, inovatif, dan bernilai. Dan juga sebagai peneliti seni pewayangan. Saat ini cukup eksis dan memiliki intensitas pertunjukan yang padat. Ikuti juga instagram: @catur_dalang.
14 Sep 2016
16 Sep 2015
Pertunjukan Wayang lakon Wirata Parwa di Panjangan, Semarang oleh Ki Catur Nugroho
Galeri Pertunjukan Wayang Ki Catur Nugroho S.Sn, M.Sn.
Beberapa foto ini diambil ketika pentas oleh Ki Dalang Catur Nugroho S.Sn, M.Sn di berbagai wilayah di Pulau Jawa, Indonesia.
2 Nov 2014
ASAL-USUL MITOS TOKOH SEMAR
ASAL-USUL MITOS TOKOH SEMAR
Oleh: Catur Nugroho
PENGANTAR
A.
Latar Belakang Masalah
Pertunjukan
wayang kulit merupakan salah satu jenis kesenian yang cukup populer dan
disenangi oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada cukup lama, yaitu
sejak abad ke-11 Masehi zaman Airlangga sebagaimana tercantum dalam Kakawin
Arjuna Wiwaha pada bait 59 (Soetarno, 2011:3-4). Pertunjukan wayang kulit
selalu dijadikan frame of reference oleh
masyarakat dari masa ke masa (Murtiyoso, 1998:1-2). Epos Mahabharata dan
Ramayana sebagai sumber pokok cerita pertunjukan wayang kulit purwa telah
mengalami penyesuaian terhadap local
genius. Aneka nilai (values) yang
tidak sesuai dengan pola budaya Jawa juga mengalami perubahan pada arah nalar
berpikir Jawa. Hal demikian, salah satunya dapat dilihat dari munculnya
tokoh-tokoh baru yang tidak terdapat dari cerita aslinya. Hadirnya tokoh punakawan adalah implementasinya.
Punakawan dalam
hal ini difokuskan terhadap punakawan para
Pandawa dari kisah Mahabharata, karena banyak punakawan lainnya yang terdapat dalam berbagai versi cerita. Punakawan Pandawa terdiri dari Semar,
Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka adalah pelayan bagi tuannya (baca: Pandawa).
Tokoh Semar adalah salah satu dari keempat punakawan
tersebut yang memiliki banyak keistimewaan. Alasan inilah yang membuat
tokoh Semar menjadi fokus kajian dalam tulisan ini. Kedudukkan Semar dapat
dikatakan sangat berbeda dengan ketiga punakawan
lainnya (Gareng, Petruk, dan Bagong) meskipun mereka sama-sama pembantu. Menurut
Sumukti, Semar selalu hadir membawa solusi terhadap gara-gara (permasalahan) yang menimpa tuannya (2005:4). Dalam
beberapa lakon Semar justru
diperlakukan dengan sangat hormat, misalnya lakon
Semar Mbangun Kahyangan, Lakon Semar Kuning, dan masih banyak lagi. Padahal secara umum dipahami bahwa
kedudukkan pembantu sering kali tidak dihormati.
Pentingnya
tokoh Semar bagi masyarakat Jawa tidak dapat dipisahkan dari vitalitas dan
kapabilitas perannya dalam berbagai lakon
wayang. Berdasarkan beberapa peristiwa
tersebut peran Semar tampaknya menimbulkan kesan kontradiksi dan infersi. Semar
yang biasanya hanya sebagai abdi (bawahan)
kemudian hadir sebagai sosok yang begitu dimuliakan dan disegani oleh tuannya.
Sumukti berpendapat bahwa tokoh Semar merupakan kebijaksanaan dalam pengertian
daya pikiran manusia paling terkonsentrasi (2005:1). Hal ini tidak dapat
dipungkiri bahwa Semar adalah pengejawantahan dewa Ismaya. Keistimewaan tokoh
Semar inilah yang membuatnya mendapat ruang khusus bagi kehidupan sebagian
masyarakat Jawa. Dia hadir baik secara lahir maupun batin. Secara lahir dapat
dilihat bahwa tokoh Semar sering menghiasi rumah, baik dalam bentuk gambar,
lukisan, kaligrafi, maupun patung, dan masih banyak lagi. Dalam hal religius,
tokoh Semar juga hadir bagi aliran kepercayaan Sapta Dharma yang menjadikan Semar sebagai ideologi.
Berangkat dari beberapa fenomena
tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa sebenarnya tokoh Semar dan
bagaimana asal-usul tokoh tersebut. Sebelum lebih jauh membahas tentang
asal-usul tokoh Semar, maka perlu dipahami terlebih dahulu bahwa tokoh Semar
dalam hal ini diasumsikan sebagai sebuah mitos. Hal ini menjadi penting karena
berkaitan dengan metode serta pemaparan analisis dalam tulisan ini. Adapun
penjelasan terkait asumsi tentang tokoh Semar sebagai sebuah mitos tersebut
akan dijelaskan dalam sub bagian pembahasan. Oleh karena itu, penjelasan
tentang asal-usul tokoh Semar tidak semata-mata dijelaskan secara diakronis,
tetapi juga sinkronis, mengingat minimnya data tentang kapan dan di mana tokoh
Semar muncul. Di samping itu, analisis historis tentang tokoh Semar ini nanti
juga akan dikaitkan dengan relief-relief pada beberapa bangunan candi. Hal ini
dilakukan sebagai upaya untuk melihat transformasi-transformasi baik esensi
maupun eksistensi dari tokoh Semar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan tersebut agar
pembahasan lebih terarah, maka dirumuskan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana
asal-usul tokoh Semar dalam cerita pewayangan?
2. Bagaimana
asal-usul mitos tokoh Semar dalam kehidupan masyarakat?
3. Bagaimana
perkembangan eksistensi dan esensi tokoh Semar dalam kehidupan masyarakat Jawa?
PEMBAHASAN
A. Tokoh
Semar Sebagai Mitos
Penjelasan
tentang asal-usul tokoh Semar baik dalam cerita wayang maupun dalam kehidupan
masyarakat Jawa sangat perlu dipaparkan terlebih dahulu mengenai asumsi tokoh
Semar sebagai sebuah mitos. Dalam hal ini penulis mengacu pada pandangan
Levi-Strauss, bahwa mitos tidak harus dipertentangkan dengan sejarah atau
kenyataan, karena perbedaan makna dari dua konsep tersebut semakin sulit
dipertahankan dewasa ini. Apa yang dianggap oleh suatu masyarakat sebagai
sebuah sejarah atau peristiwa yang benar terjadi, ternyata hanya dianggap
sebagai dongeng yang tidak harus diyakini kebenarannya oleh masyarakat yang
lain. Oleh karena itu, mitos sama dengan dongeng. Dongeng adalah sebuah cerita
yang lahir dari imajinasi dan khayalan manusia, meskipun khayalan tersebut bersumber
dari kehidupan masyarakat sehari-hari (Ahimsa, 2013:77).
Berangkat
dari pemikiran tersebut maka tokoh Semar dapat diasumsikan sebagai sebuah mitos
atau dongeng. Asumsi ini paling tidak didasarkan atas dua hal sebagaimana
disampaikan oleh Ahimsa atas dongeng Umar Kayam yang coba penulis simpulkan,
yaitu: (1) dongeng muncul sebagai realisasi dari sebuah upaya untuk memahami
peristiwa dahsyat yang sulit untuk dihadapi; dan (2) dongeng lahir dari
imajinasi dan interpretasi individu
pemilik mitos tersebut (Ahimsa, 2013:260).
Implikasi
dari pendapat tersebut, pertama, bahwa tokoh Semar adalah realisasi dari nalar
pikir masyarakat kecil yang selalu berupaya memahami peristiwa yang rumit dalam
kehidupannya. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa tokoh Semar oleh sebagian
masyarakat Jawa adalah representasi dari wong
cilik. Wong cilik (rakyat kecil) ini beberapa beranggapan bahwa mereka
merasa tertindas oleh kepentingan kekuasaan. Oleh karena itu, muncul lakon-lakon wayang yang
merepresentasikan suara rakyat kecil yang diwujudkan pada tokoh Semar,
misalnya, Lakon Semar Mbabar Jatidiri,
Lakon Semar Mbangun Gedhong Kencana, dan sebagainya. Kedua, tokoh Semar
lahir dari budaya asli mitologi nusantara[1]
(Mulyono, 1982:115). Artinya, tokoh Semar merupakan imajinasi dan interpretasi
individu masyarakat Nusantara. Menurut Ahimsa, walaupun kita tidak tahu
bagaimana sebuah mitos lahir di tengah masyarakat, namun kita tidak dapat
mengingkari fakta bahwa mitos lahir melalui individu-individu tertentu. Mitos
tidak begitu saja muncul dari langit. Pencipta mitos tetaplah manusia (“Si
Pendongeng”) yang juga melibatkan dirinya dalam kehidupan masyarakatnya
(Ahimsa, 2013:260).
B.
Asal-usul Tokoh Semar Dalam Cerita Pewayangan
Pembahasan
mengenai asal-asul tokoh Semar penulis membagi menjadi dua bagian, pertama,
asal-usulnya dalam cerita atau lakon wayang;
kedua, asal-usulnya dalam kebudayaan masyarakat yang akan dijelaskan pada
bagian berikutnya. Pembagian ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang-tindih
dalam memahami asal-usul Semar. Dalam hal ini dipaparkan terlebih dahulu
mengenai asal-usul tokoh Semar, setelah itu ditampilkan cerita turunnya Semar
ke dunia dalam lakon pertunjukan
wayang. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
Sang Hyang Wenang memiliki putra yaitu
Sang Hyang Tunggal yang memiliki istri Dewi Rekatawati. Pada suatu hari
Rekatawati melahirkan sebutir telur. Di hadapan Sang Hyang Wenang telur
tersebut menetas dengan sendirinya dan menjadi tiga makhluk. Ketiga makhluk
tersebut adalah Tejamantri yang muncul dari kulit telur, kemudian Ismaya yang
berasal dari putih telur, dan Manikmaya terjadi dari kuning telur. Suatu ketika
terjadi perdebatan antara Tejamantri, Ismaya, dan Manikmaya, mereka berebut
posisi yang kelak menggantikan ayahnya sebagai penguasa. Manikmaya kemudian menantang
perlombaan, yaitu menelan gunung dan memuntahkannya kembali. Tejamantri sebagai
yang tertua melakukannya dulu tetapi gagal[2].
Berikutnya Ismaya yang melakukannya dan berhasil menelannya tetapi tidak dapat
memuntahkannya sehingga perutnya menjadi besar. Peristiwa ini menimbulkan gara-gara sehingga Sang Hyang Wenang
datang. Pada akhirnya, Sang Hyang Wenang menetapkan bahwa pada waktunya nanti Manikmaya
akan menjadi raja paradewa, penguasa surga dan neraka, dan menurunkan penduduk
di bumi. Adapun Semar dan Tejamantri harus turun ke bumi untuk memelihara
keturunan Manikmaya. Keduanya hanya diperbolehkan mengahadap Sang Hyang Wenang
apabila Manikmaya bertindak tidak adil. Sejak itu Sang Hyang Wenang mengganti
nama mereka, Manikmaya menjadi Batara Guru, Tejamantri menjadi Togog, dan
Ismaya menjadi Semar (Sumukti, 2005:20-21; Mulyono, 1982:53-55).
Kisah tersebut kemudian berlanjut dengan
turunnya tokoh Semar di dunia. Semar turun di bumi terjadi pada zaman Resi
Kanumayasa seorang pendeta di Saptaarga. Suatu ketika, ada orang cebol bernama
Samarasanta (Semar) lari di tengah-tengah hutan karena dikejar dua ekor macan. Pelariannya
hingga sampai di wilayah Saptaarga. Kanumayasa yang melihat penderitaan
Samarasanta kemudian menolongnya dengan meruwat macan tersebut. Setalah
diruwat, macan tersebut berubah menjadi dua bidadari yang cantik jelita, yang
tua bernama Dewi Kanastren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Akhirnya Dewi
Kanastren menjadi jodoh Semar. Adapun Dewi Retnawati menjadi jodoh Kanumayasa.
Semenjak peristiwa tersebut Samarasanta kemudian mengabdi (nyantrik) pada sang resi (Purwadi, 2007:258).
Berdasarkan paparan tersebut kemudian
oleh para dalang digarap sedemikian rupa menjadi sebuah lakon wayang. Lakon-lakon tentang
asal-usul dan turunnya Semar ini kemudian menjadi berbagai versi nama, misalnya
Lakon Laire Semar, Lakon Tumuruning
Janggan Samarasanta, Lakon Semar Ngejawantah, dan masih banyak lagi. Meskipun
muncul berbagai versi nama tentang asal-usul Semar, tetapi inti cerita dan isi
yang disampaikan mayoritas sama, tidak banyak terjadi perubahan. Seandainya
terjadi perubahan biasanya hanya sebatas pembagian struktur adegan saja,
mengingat dalang memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan daya
kreativitasnya.
C.
Asal-usul Mitos Tokoh Semar Dalam Kehidupan Masyarakat
Strategi
atau metode yang digunakan untuk mengetahui asal-usul mitos tokoh Semar dalam
kehidupan Masyarakat dapat ditelusuri dan dikaji melalui tiga sumber data, yaitu: (1) data
kesusasteraan; (2) data relief; dan (3) data lisan (oral). Melalui langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu
menyusun konstruksi diakronis yang cukup baik mengenai asal-usul mitos tokoh
Semar.
1.
Semar dalam kesusasteraan.
Semar dalam Kitab Sudamala.
Menurut Van Stein Callenfels dalam disertasinya sebagaimana dikutip oleh
Mulyono, bahwa Kitab Sudamala dengan
tegas telah menyebut nama Semar. Hal ini dapat dilihat pada penggalan bait
ke-39 dari kitab tersebut.
“PunSmar hamuwus
mangke, hatarimengsun kakang matur ring sang mahadibya mangko, haglis ni Putut
matura, ring sang maharesi mangke”.
Artinya:
“Kata-kata dari
Putut berbunyi” Inilah Semar yang
terhormat, yang diberikan oleh sang pertapa yang baik kepada anda. Sampaikanlah
penghormatanku, terimakasihku kepada sang pertapa” (Mulyono, 1982:15-19).
Berdasarkan kutipan tersebut bahwa tokoh
Semar paling tidak telah ada sejak zaman Majapahit, yaitu abad ke-XV
sebagaimana Kitab Sudamala tersebut
ditulis. Namun demikian, perlu dikritisi lagi bahwa masih terdapat sumber lain
yang tampaknya lebih tua dari Kitab
Sudamala yang juga menampilkan nama tokoh Semar, yaitu Kitab Gatutkacasraya.
Semar
dalam Kitab Gatutkacasraya.
Kitab Gatutkacasraya merupakan karya
empu Panuluh pada tahun 1110 Jawa atau 1188 Masehi. Kitab tersebut juga
menampilkan nama “Jurudyah Prasanta
Punta” (Mulyono, 1982:21). Nama ‘Jurudyah Prasanta’ ini masih sering
dipakai oleh para dalang ketika mendeskripsikan dasanama[3]
tokoh Semar.
Berdasarkan penjelasan tersebut
menunjukkan bahwa mitos tokoh Semar telah ada sejak dulu, yaitu sekitar abad
ke-XI. Dalam hal ini perlu disampaikan pula bahwa menurut Hazeu sebagaimana
dikutip oleh Mulyono, tokoh Semar adalah asli berasal dari Indonesia. Dia tidak
berasal dari India, dan Semar sama sekali tidak merepresentasikan peranan
India. Terlebih perannya yang sekarang, di mana dia hadir bersama
nasehat-nasehatnya sebagai sosok pembantu yang dihormati oleh tuannya para
Pandawa (1982:25-26).
2. Semar dalam relief.
Mitos tentang asal-usul tokoh Semar juga
dapat dilacak dengan mengamati beberapa relief pada bangunan candi. Berdasarkan
pengamatan dapat dilihat bahwa terdapat relief tokoh abdi atau punakawan yang
mengikuti tuannya dalam bangunan candi Jago dan candi Tegowangi. Candi Jago
dibangun pada masa pemerintahan Kertanegara raja di Kerajaan Singosari.
Pembangunan candi diperkirakan berlangsung selama kurang lebih 12 tahun
(1268M-1280M). Candi Jago dibangun sebagai pendarmaan bagi Wisnuwardhana yang merupakan
ayah dari Kertanegara. Relief yang terpahat dalam dinding bangunan candi Jago
adalah cerita Tantri Kamandaka, Kunjarakarna,
Anglingdharma, Parthayajna
dan
Arjuna Wiwaha (Ciptaning) (http://candi.pnri.go.id/jawa_timur/jago/jago.htm;
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Jago). Adapun relief punakawan terdapat pada bagian cerita Parthayajna (Pandawa Dadu). Di dalam
relief tersebut tergambar empat sosok abdi
di bawah yang di antaranya memiliki badan pendek dan gemuk. Sayangnya tidak
ada sumber yang menjelaskan secara pasti tentang deskripsi kedua tokoh abdi tersebut. Namun demikian, apabila
relief tersebut diperhatikan secara seksama dapat ditafsirkan bahwa keempat abdi tersebut adalah punakawan Pandawa. Tafsir ini
berdasarkan atas bentuk salah satu punakawan
tersebut yang memiliki hidung panjang, yaitu tokoh Petruk. Artinya, ketiga
tokoh lainnya adalah Semar, Gareng, dan Bagong. Oleh karena itu, dapat
dipastikan bahwa tokoh Semar sudah ada pada sekitar abad ke-XIII.
Adapun candi Tegowangi dibangun pada
akhir abad ke-XIV atas perintah raja Hayam Wuruk (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Tegowangi).
Adanya relief tentang Sudamala mengindikasikan
bahwa tujuan dari dibangunnya candi tersebut adalah untuk upacara ruwatan. Di dalam relief Sudamala tergambar dua tokoh yang
tampaknya adalah seorang abdi. Salah
satunya memiliki badan gemuk dan pendek seperti halnya bentuk tokoh Semar. Apabila
merujuk pada isi Kitab Sudamala yang
menuliskan bahwa di dalamnya terdapat tokoh Semar, maka dapat ditafsirkan bahwa
relief abdi tersebut salah satunya
menggambarkan tokoh Semar. Dengan demikian, lagi-lagi tokoh Semar hadir pada
sekitar akhir abad ke-XIV pada masa raja Hayam Wuruk.
3. Semar dalam tradisi lisan (oral)
Data tentang asal-usul mitos tokoh Semar
juga dapat dilihat pada sumber data lisan. Meskipun jumlahnya tidak begitu
banyak dan kredibilitas data cukup minim, tetapi dalam hal ini tetap dipaparkan
sebagai referensi untuk melakukan reduksi dengan mengkomparasikannya terhadap
data-data lain. Sebagaimana dituliskan oleh Soetarno, bahwa kemunculan tokoh
Semar diuraikan dalam tradisi lisan yang telah tertulis dalam Serat
Centhini dan Serat Sastramiruda. Dijelaskan
bahwa tokoh wayang Semar dibuat zaman Mataram pada masa pemerintahan Panembahan
Senapati. Selain wayang Semar, juga dibuat wayang lainnya seperti Bagong,
Cenguris, Cantrik, keris, dan panah. Peristiwa ini tampaknya terjadi pada
sekitar abad ke-XVI. Hal ini didasarkan atas penanda yang dibuat dalam serat
tersebut, yaitu tahun 1541 (Soetarno, 2007:15). Berdasarkan sumber ini dapat
ditafsirkan bahwa tokoh Semar muncul dalam kehidupan masyarakat yang
direalisasikan dalam bentuk wayang kulit.
Sebelum menganalisis perkembangan
eksistensi dan esensi tokoh Semar dalam kehidupan masyarakat dipaparkan
terlebih dahulu mengenai kehadiran tokoh Semar dalam dunia batin orang Jawa.
Keistimewaan karakter tokoh Semar ternyata mendapat ruang khusus dalam sistem
religius bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya aliran kepercayaan ‘Sapta
Dharma’. Menurut Hadiwijono
sebagaimana dikutip oleh Mulyono bahwa di Jawa terdapat suatu aliran kebatinan
yang menggunakan simbol tokoh Semar yakni aliran Sapta Dharma. Simbol tersebut
berupa:
a.
Belah ketupat
yang menggambarkan asal manusia. Sudut atas menggambarkan ‘sinar cahaya Allah’, sudut bawah menggambarkan ‘sari bumi’, sedangkan sudut kanan, dan sudut kiri
menggambarkan ‘perantaraan terjadinya manusia’.
b.
Garis tepi belah
ketupat menggambarkan badan manusia.
c.
Dasar belah
ketupat berwarna hijau muda yaitu penggambaran hawa atau getaran.
d.
Di dalam belah
ketupat terdapat segitiga sama sisi yang terbagi ke dalam tiga segi sama sisi
dan empat lingkaran sepusat berwarna putih yang menggambarkan terjadinya
manusia dari tritunggal (bapa:sperma,
ibu:telur, dan sinar cahaya Allah).
e.
Segitiga-segitiga
tersebut memiliki sembilan sudut yang artinya penggambaran sembilan lubang
manusia.
f.
Empat lingkaran
sepusat masing-masing berwarna hitam, merah, kuning, dan putih yang
menggambarkan empat hawa nafsu manusia, yaitu amarah, supiyah, aluwamah, dan mutmainah.
g.
Gambar Semar
terdapat pada lingkaran pusat berwarna putih yaitu menggambarkan lubang
kesepuluh manusia yang terletak di ubun-ubun.
h.
Gambar Semar
memiliki arti budi luhur. Tangan kiri
Semar memegang sesuatu yang artinya memiliki rasa yang mulia dan memiliki sabda yang kuasa. Kampuh lipatan lima yang dikenakan oleh Semar menggambarkan bahwa
ia menjalankan Panca Sila Allah.
i.
Tulisan Sapta
Dharma tertera di dalam belah ketupat yang berarti tujuh kewajiban. Selain itu,
juga tertulis napsu, budi, dan pakarti yang menggambarkan kepribadian
manusia (Mulyono, 1982:35-37).
‘Wahyu Sapta Dharma’ diterima
oleh Hardjosapuro pada Jumat tanggal 27 Desember pukul satu malam di Desa Pare,
Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berangkat dari fenomena ini dapat ditafsirkan
bahwa Semar hadir dalam sistem kepercayaan sebagian orang Jawa, yaitu aliran
Sapta Dharma. Salah satu hal yang dapat diambil dari
peristiwa ini, yaitu mereka percaya bahwa Semar ‘ada’ atau ‘nyata’. Terlepas
dari apakah benar atau tidak, tetapi yang jelas Semar telah menimbulkan sugesti
hingga orang Jawa begitu panatik terhadapnya, dan inilah faktanya.
D. Perkembangan Eksistensi dan Esensi Tokoh
Semar Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Perkembangan eksistensi dalam hal ini
adalah penjelasan tentang ‘keberadaan’ tokoh Semar di dalam kehidupan
masyarakat berdasarkan pemaparan-pemaparan data sebelumnya. Hal ini berpijak
pada angka tahun dan angka abad. Asumsi sederhananya, bahwa ketika suatu benda
(data arkeologi) menampilkan representasi tentang tokoh punakawan dan/atau tokoh Semar berarti pada tahun itu pula
keberadaan Semar telah ada.
Berdasarkan sumber data baik
kesusasteraan, relief, maupun lisan dapat ditarik sebuah diacronic historical description, bahwa Semar telah ada sejak abad
ke-XI sebagaimana terdapat dalam Kitab
Gatutkacasraya. Selantunya keberadaan tokoh Semar terdapat di relief candi
Jago dalam cerita Parthayajna pada
abad ke-XIII. Keberadaannya juga tampil pada relief candi Tegawangi dalam
cerita Sudamala pada abad ke-XIV. Tokoh
Semar juga terdapat dalam Kitab Sudamala pada
abad ke-XV. Sekitar abad ke-XVI pada masa pemerintahan Panembahan Senapati di
Mataram lahir tokoh wayang Semar. Setelah tahun-tahun tersebut keberadaan mitos
tokoh Semar masih ada hingga sekarang. Implikisasi dapat dilihat dari hadirnya
dalam aliran Sapta Dharma, tampilnya dalam pertunjukan lakon wayang, muncul dalam berbagai ornamen. Artinya keberadaan
tokoh Semar masih bertahan hingga saat ini.
Adapun
mengenai perkembangan esensi tokoh Semar menunjukkan perubahan atau pergeseran
peran. Apabila diamati awalnya peran Semar tidak lebih dari sosok abdi atau pembantu. Meskipun dalam
berbagai sumber tidak menyatakan secara pasti peran Semar, tetapi di situ juga
tidak menyebutkan bahwa tokoh Semar hadir dengan nasehat-nasehatnya. Artinya,
dapat ditafsirkan bahwa punakawan Semar
hanya seperti atau bahkan sama dengan kedudukkan abdi. Namun demikian, tafsir ini bisa kurang tepat apabila kemudian
ditemukan data lain yang menyebutkan secara pasti bahwa sejak awal peran tokoh
Semar memang lebih dari sekedar abdi. Selanjutnya,
apabila dilihat perkembangannya hingga saat ini peran Semar telah mengalami
perubahan. Semar hadir sebagai lambang kebijaksanaan baik dalam cerita wayang
maupun kehidupan masyarakat Jawa. Kehadirannya membawa kedamaian bagi yang
mendengarkannya. Secara implisit dapat kita lihat dalam aliran Sapta Dharma,
ornamen-ornamen, lakon-lakon wayang
tentang Semar di mana esensi Semar adalah sugesti yang mengarahkan terhadap
keserdahanaan yang penuh dengan kebijaksanaan sebagai sebuah panutan hidup.
PENUTUP
Kesimpulan
Berbagai
penjelasan tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, tokoh Semar
adalah sebuah mitos yang lahir dari imajinasi nenek moyang Indonesia sebagai
pemilik dongeng tersebut. Kedua, dalam cerita wayang tokoh Semar lahir dari
sebutir telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati istri Sang Hyang Tunggal.
Tokoh Semar kemudian ditugaskan ke dunia untuk mengasuh para kesatriya.
Turunnya tokoh Semar di dunia terjadi pada zaman resi Kanumayasa di Saptaarga. Ketiga,
berdasarkan data kesusasteraan, relief, dan lisan menunjukkan bahwa keberadaan
mitos Semar sudah ada sejak abad ke-XI dan tetap eksis hingga sekarang. Oleh
karena itu, periodesasi penjelasan sejarah mitos Semar ini dimulai dari abad
ke-XI hingga sekarang. Keempat, esensi tokoh Semar juga menunjukkan perubahan.
Awalnya semar tampak hanya seperti abdi atau
punakawan, tetapi sekarang Semar lebih
dari sekedar abdi, dia adalah lambang
kebijaksanaan yang menuntun pada kesederhanaan hidup.
Berdasarkan
kesimpulan tersebut penulis masih menyadari bahwa analisis di sini masih jauh
dari sempurna. Minimnya data serta tersebarnya data yang saling tumpang-tindih
menimbulkan kesulitan bagi penulis dalam mengklasivikasi serta
menginventarisasikannya. Penulis berharap pembahasan tentang asal-usul mitos
Semar ini masih bisa diperbaiki dan dilanjutkan oleh siapapun.
DAFTAR ACUAN
Kepustakaan
Ahimsa-Putra,
Heddy Shri. Strukturalisme Levi-Strauss,
Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press, 2013.
Mulyono,
Sri. Apa dan Siapa Semar. Jakarta:
Gunung Agung, 1982.
Murtiyoso,
Bambang. “Mengenal Karya Baru Wayang Layar Lebar Sandosa”, Gatra, No. XVIII. Jakarta: Senawangi, 1998.
Purwadi.
Seni Pedhalangan Wayang Purwa. Yogyakarta:
Panji Pustaka, 2007.
Soetarno,
Sarwanto, dan Sudarko. Sejarah
Pedalangan. Surakarta: ISI Press, 2007.
Soetarno. Teater Nusantara. Surakarta: ISI Press,
2011.
Sumukti,
Tuti. Semar Dunia Batin Orang Jawa. Yogyakarta:
Galangpress, 2005.
Internet
“Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia: Candi di Indonesia; Candi Jago” dalam http://candi.pnri.go.id/jawa_timur/jago/jago.htm. Diunduh pada tanggal 21 Januari
2014.
“Wikipedia:
Candi Jago” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Jago.htm. Diunduh pada tanggal
21 Januari 2014.
“Wikipedia:
Candi Tegowangi” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Tegowangi.htm. Diunduh pada tanggal
31 Juni 2014.
15 Jan 2014
KARAKTER TOKOH TRIPAMA SEBAGAI PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARAKTER BAGI MAHASISWA
KARAKTER TOKOH TRIPAMA
SEBAGAI
PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARAKTER BAGI MAHASISWA
Disusun oleh:
Catur Nugroho
|
INSTITUT SENI INDONESIA
SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Seni
pedalangan khususnya wayang kulit purwa merupakan sebuah seni yang kompleks,
artinya dalam pertunjukannya terdapat berbagai hal penting yang terkandung baik
itu nampak secara nyata atau hanya tersirat saja dalam sajian perjalanan cerita
wayang tersebut. Beberapa hal penting atau unsur wigati yang terdapat dalam pertunjukan wayang baik itu cerita,
tokoh, karakter maupun struktur dramatik alur lakon, secara hakiki bagi yang
menyadari semuanya berorientasi terhadap pesan-pesan moral yang ingin
disampaikan dalang kepada penonton atau penghayatnya.
Ajaran
moral yang terkandung dalam pertunjukan wayang memang mencakup banyak hal yang
berkaitan dengan kehidupan manusia, seperti kita ketahui bahwa pertunjukan
wayang merupakan refleksi dari kehidupan manusia. Sehingga, antara makna dan
pesan dalam pertunjukan wayang dengan kehidupan manusia secara disadari atau
tidak memang saling mempengaruhi. Nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan
wayang diantaranya, ialah: (a)nilai kepahlawanan, (b)nilai sosial, (c)nilai
kesetiaan dan masih banyak lagi.
Berbagai
nilai-nilai moral kemanusian dan sosial memang cukup inti dalam pertunjukan
wayang, hingga makna atau pesan dalam pertunjukan wayang masih begitu
ditekankan atau diutamakan, sehingga pertunjukan wayang sering disebut sebagai tuntunan. Akan tetapi, seiring
perkembangan jaman yang kian mengglobal dan sangat erat bersentuhan dengan
kehidupan manusia berikut budayanya, disatu sisi memang memacu loncatan drastis
pada arah kemajuan tapi disisi lain justru memundurkan sesuatu hal yang
dianggap kurang up to date atau
dianggap sebagai hal yang kuno, dalam hal ini adalah kebudayaan tradisi
termasuk pertunjukan wayang. Hal ini, memang tidak bisa diartikan dari
paradigma sebelah mata saja karena keduanya antara tradisi dan pengaruh global
memang sebuah fenomena yang secara nyata terjadi dan harus dihadapi, sehingga
dewasa ini banyak pertunjukan wayang yang hanya lebih menampilkan pada sisi
hiburan saja, sebab manusia sekarng lebih menyukai hal-hal yang instan dan
mudah dimengerti, dengan kata lain sekarang sering disebut wayang sebagai tontonan. Laeyendecker memaparkan, bahwa
pertama, masyarakat pada hakekatnya adalah stabil, tetapi secara ajek muncul
faktor pengganggu yang menyebabkan perubahan; kedua, masyarakat pada hakekatnya
berubah namun karena bergabungnya berbagai faktor maka masyarakat tersebut
kadang-kadang stabil untuk waktu yang lama; ketiga, antara stabilitas dan
perubahan merupakan dua sisi yang sama. Ini artinya bahwa menimbulkan perubahan
sama sukarnya dengan membendung perubahan(1983:54). Justru permasalahannya
adalah bagaimana kita, atau lebih penulis tekankan bagaimana seorang mahasiswa menyikapi
fenomena ini?, jawaban ada ditangan kita sebagai seorang mahasiswa.
Berdasarkan
pandangan subyektivitas penulis mahasiswa adalah sosok yang sangat berpengaruh
bagi maju dan mundurnya sebuh negara secara umum, dan secara khusus kebudayaan
tradisi diantaranya adalah pertunjukan wayang. Sebab, mahasiswa adalah generasi
muda yang nantinya akan memimpin dan membawa bangsa ini kearah kemajuan
tentunya. Sebagai contoh, seorang mahasiswa pedalangan ketika masih menjalani
studi atau setelah selesai studi pada dasarnya memiliki peran yang cukup
penting untuk kelestarian dan perkembangan wayang. Sehingga beban yang dipikul
oleh seorang mahasiswa memang sangat berat, namun akhir-akhir ini berdasarkan
pengamatan penulis mengenai realita kehidupan mahasiswa memang sedikit banyak
terdapat hal-hal yang cukup memprihatinkan. Dewasa ini banyak mahasiswa yang
sering bertindak anarkis, emosi yang tak terkendali dan sering melakukan
hal-hal yang merusak tatanan, seperti: mabuk, narkoba dan sebagainya. Kejadian
tersebut, hampir setiap hari menghiasi mata kaita ketika melihat siaran berita
pada sebuah stasiun televisi. Disamping itu, sebagian mahasiswa atau generasi
muda saat ini terlalu mudah atau kurang selektif dalam menerima kebudayaan
barat, yang mungkin kurang sesuai dengan kebudayaan tradisi, sehingga
kebudayaan tradisi harus tersisih secara perlahan.
Fenomena
tersebut memang bukan menjadi topik yang baru, artinya dari dulu permasalahan
mengenai kenakalan mahasiswa sudah menjadi hal yang biasa, hanya intensitasnya
saja yang membedakan bah dewasa ini menurut pandangan penulis lebih meningkat
intensitasnya, sehingga hal ini cukup mengkhawatirkan tentunya bagi kita semua.
Fenomena tersebut, sekilas memang kurang menyambung dengan konteks pedalangan,
namun jika kita benar-benar mau meresapi, memahami dan merenunginya ternyata
semua kejadian tersebut memiliki benang merah dengan dunia pedalangan. Dewasa
ini, dengan semakin maraknya pergaulan bebas dan budaya asing dalam kalangan
mahasiswa yang kurang pas dengan kebudayaan kita, ternyata juga berimbas
terhadap dunia pedalangan. Hal ini, nampak jelas ketika mahasiswa dewasa ini
yang lebih menganggap kebudayaan barat adalah sesuatu yang modern dan patut
dilakukan, dan kebudayaan tradisi yang didalamnya terdapat pertunjukan wayang
dianggap kuno dan malu untuk dilakukan, ini nampak bahwa kebanyakan anak muda
dewasa ini menurut pandangan penulis kurang begitu antusias terhadap
pertunjukan wayang.
Dewasa
ini, mulai ngetren dengan istilah
pendidikan karakter, artinya dari semua fenomena diatas banyak yang beranggapan
permasalahan dasar pada mahasiswa atau generasi bangsa bersumbu pada karakter
seseorang. Hipotesa penulis, lemahnya karakter yang dimiliki seseorang akan
sangat mempengaruhi terhadap sikap dan perilaku untuk bertindak. Pendidikan
karakter itu sendiri yang sekarang mulai ditekankan oleh pemerintah terdiri dari
empat pilar penting yang seharusnya dijadikan sebagai sebuah pegangan, yaitu:
(1)Undang-Undang Dasar 1945, (2)Pancasila, (3)Bhineka Tunggal Ika dan (4)NKRI. Sehingga,
dari fenomena ini akan penulis hadapkan serta kolerasikan dengan dunia
pewayangan, karena nilai yang terkandung dalam pertunjukan wayang sementara ini
masih sangat relevan untuk dijadikan sebuah perspektif pada pendidikan karakter
mahasiswa, dengan harapan mampu membantu memperbaiki karakter mahasiswa atau
generasi muda menjadi lebih baik. Sebab, seperti kita ketahui bahwa dalam
pertunjukan wayang terkandung ajaran-ajaran moral yang sangat adi luhung sehingga apabila kita
benar-benar meresapi dan melaksanakannya tentu akan memiliki manfaat yang besar
dalam kehidupan ini.
Nilai
yang terkandung dalam pertunjukan wayang terdapat dalam berbagai aspek,
diantaranya dalam tokoh wayang, alur cerita dan pengkarakteran tokoh. Sesuai
dengan tema ini penulis akan mengangkat mengenai tokoh wayang yang disebut
dengan istilah Tripama, istilah ini
yang mencipkan adalah KGPAA Mangkoenegara IV yang tertulis dalam Serat Tripama dan KGPAA Mangkoenegara IV
adalah pengarang dari buku tersebut. Tripama
merupakan bahasa jawa yang berarti, Tri
adalah tiga dan pama ialah
perumpamaan yang artinya tiga tokoh baik yang menjadi sebuah perumpamaan atau
contoh karakter yang memiliki nilai bijaksana tinggi untuk ditiru atau dicontoh.
Tripama
itu
terdiri dari tiga tokoh wayang, yaitu: (1)Sumantri, (2)Kumbakarna dan
(3)Basukarna. Ketiga tokoh tersebut menurut KGPAA Mangkoenegara IV adalah tokoh
yang memiliki jiwa atau karakter yang sangat bagus, sehingga patut untuk
dicontoh dan ditiru bagi kita khususnya generasi muda atau mahasiswa. Sehingga,
jiwa yang dimiliki oleh tokoh Tripama tersebut
mampu dijadikan sebuah perspektif pendidikan karakter. Perspektif itu sendiri
merupakan sebuah pandangan, artinya tulisan ini berisi penggambaran tokoh Tripama yang seyogyanya mampu dijadikan
sebuah pandangan dan tauladan yang baik bagi kita semua khususnya mahasiswa.
B.
Perumusan
masalah
Pembahasan
ini agar terarah maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
penjelasan mengenai karakter tokoh Tripama?
2. Bagaimana
tokoh Tripama sebagai perspektif
pendidikan karakter bagi mahasiswa?
Rumusan permasalahan tersebut akan
dibahas secara jelas, serta akan menambahkan beberapa hal lainnya yang terkait
maupun memiliki kolerasi terhadap topik pembahasan tulisan ini.
C.
Tujuan
penulisan
Pembahasan dalam
makalah ini memiliki beberapa tujuan
yang ingin dicapai, tujuan ini penulis bagi dalam dua hal, yaitu:
a. Tujuan
umum
1. Memperoleh
gambaran yang jelas mengenai penjelasan serta penggambaran karakter tokoh Tripama.
2. Mengetahui
tentang karakter tokoh Tripama apabila
diaplikasikan sebagai sebuah perspektif pendidikan karakter bagi mahasiswa.
b. Tujuan
Khusus
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas akhir semester mata kuliah Seminar
Pedalangan II.
D.
Manfaat
penulisan
Kontribusi
dari penulisan ini adalah menambah perbendaharaan kajian mengenai pertunjukan
wayang dalam pengaplikasiannya terhadap lingkungan sosial, termasuk dalam hal
ini adalah mampu memperoleh penjelasan mengenai karakter tokoh Tripama dan mampu mengapresiasi bagi
pembaca maupun khalayak luas, bahwa dalam pertunjukan wayang terkandung makna
yang berharga bagi kehidupan manusia. Sehingga,
dari tulisan ini pembaca khususnya bagi mahasiswa mampu mengaplikasikan karater
tokoh Tripama dalam pendidikan
karakternya.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Tokoh Tripama
Tokoh
Tripama merupakan sebuah istilah yang
diciptakan oleh KGPAA Mangkoenegara IV dalam bukunya yang berjudul Serat Tripama, namun pada kesempatan ini
penulis tidak menemukan buku asli dari Serat
Tripama tersebut dan hanya mengacu pada buku yang ditedhak dan kababar oleh
Ki. Tentrem Warsena. Tokoh Tripama
terdiri dari tiga tokoh wayang yaitu Sumantri, Kumbakarna dan Basukarna, sesuai
dengan istilah Tripama yaitu Tri adalah tiga dan pama adalah perumpamaan baik yang sepatutnya dijadikan tauladan.
Ketiga karakter tokoh tersebut dalam Serat
Tripama disampaikan dalam bentuk tembang macapat yaitu Dandanggula. Pembahasan
tokoh Tripama akan penulis bahas satu
per satu dari ketiga tokoh tersebut, penjelasannya sebagai berikut:
a.
Tokoh
Sumantri
Suwanda
atau Sumantri adalah tokoh dalam cerita Ramayana, Sumantri merupakan anak Begawan
Suwandagni dari pertapan Jatisrana. Sumantri memiliki adik yang bernama
Sukrasana, keduanya saling mencintai dan menyayangi meskipun Sukrasana berwujud
raseksa atau buta bajang dan Sumantri
berparas tampan namun Sumantri tetap tulus mengasihi Sukrasana. Sumantri sejak
kecil sudah mendapatkan berbagai ilmu wigati
dari ayahnya Begawan Suwandagni, hingga setelah dewasa Sumantri memiliki
tekad untuk mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu. Perjalanan Sumantri ketika
akan mengabdi dengan Prabu Harjuna Sasrabahu inilah yang menurut KGPAA
Mangkoenegara IV merupakan karakter tokoh wayang yang patut untuk dijadikan
suri tauladan, sehingga oleh KGPAA Mangkoenegara IV ditulislah ini kedalam Serat Tripama pupuh Dandanggula, sebagai
berikut:
Yogyanira
kang para prajurit,
Lamun
bisa sira hanulada,
Duk
ing nguni caritane,
Andelira
sang parbu,
Sasrabahu
ing Mahespati,
Aran
Patih Suwanda,
Lelabuhanipun,
Kang
ginelung tri pakara,
Guna
kaya purune kang den
antebi,
Nuhoni
trah utama.
Lire
lelabuhan tri prakawis,
Guna: bisa saneskareng karsa,
Binudi
dadya unggule,
Kaya: sayektinipun,
Duk
mbantu prang Manggada Nagri,
Hamboyong
putri dhomas,
Katur
ratunipun,
Purune sampun tetela,
Aprang
tandhing lan ditya Ngalengka Aji,
Suwanda
mati ngrana.
Tembang
diatas secara garis besar berisi tentang karakter dan tekad yang dimiliki
Sumantri ketika akan mengabdi dengan Prabu Harjuna Sasrabahu, penulis menggaris
bawahi kata atau cakepan dalam
tembang tersebut yang juga ditekankan oleh KGPA Mangkoenegara IV yaitu kata Guna, kaya dan purun.
Guna
memiliki arti bahwa Sumantri memiliki karakter yang penuh tanggung jawab dan mampu
melaksanakan tugas dengan lancar, mampu membuat solusi terhadap permasalahan
yang sedang dihadapinya atau permasalahan pada bangsanya. Hal ini, nampak
ketika Sumantri diutus Prabu Harjuna Sasrabahu untuk memboyong Dewi Citrawati
dari Magada, akhirnya Sumantri mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.
Kaya
atau dalam bahasa Indonesia berarti kekayaan, memiliki arti bahwa Sumantri memiliki
kaya yang cukup baik secara jasmani
maupun rohani. Secara jasmani Sumantri kaya akan kemampuan olah batin, kaya
akan rohani selain pandai dalam ilmu perang juga nampak ketika Sumantri mampu membedhah Manggada kemudian memperoleh putri dhomas dan raja brana semua diserahkan pada Prabu Harjuna Sasrabahu, jelas ini
menggambarkan karakter Sumantri yang ikhlas menyerahkan semua kekayaan yang
dimilikinya pada Prabu Harjuna Sasrabahu sebagai Raja yang sangat Sumantri
hormati.
Purun
dalam bahasa Indonesia berarti mau atau bersedia, artinya Sumantri memiliki
karakter yang ikhlas dan tulus dalam melaksanakan semua tanggung jawabnya.
Kesanggupan yang tulus dari dalam hati Sumantri inilah yang patut kita contoh
sebagai sebuah karakter yang mulia.
Ketiga
inti dari karakter yang dimiliki Sumantri tersebut apabila disimpulkan, artinya
Sumantri adalah tokoh yang memiliki karakter setia atau mengandung nilai
kesetiaan. Hal ini, sangat nampak dalam jiwa Sumantri ketika dia baru mengabdi
pada Harjuna Sasrabahu dan akhirnya harus gugur oleh Rahwana semua dilakukan
atas dasar kesetiaannya kepada Harjuna Sasrabahu.
b. Tokoh Kumbakarna
Tokoh
Kumbakarna juga masuk dalam salah satu tokoh Tripama, artinya menurut KGPA Mangkoenegara IV terdapat karakter
baik dalam diri Kumbakarna yang juga patut untuk dijadikan cantoh. Kumbakarna
adalah tokoh wayang yang terdapat dalam serat Ramayana, Kumbakarna merupakan
adik dari Rahwana raja Alengka, Kumbakarna juga memiliki adik yang bernama
Gunawan dan Sarpakenaka. Mengenai jiwa Kumbakarna berdasarkan asumsi KGPA
Mangkoenegara IV disuratkan dalam Serat
Tripama pupuh Dandanggula sebagai berikut:
Wonten malih tuladhan prayogi,
Satriya gung nagri ing Ngalengka,
Sang Kumbokarna arane,
Tur iku warna diyu,
Suprandene nggayuh utami,
Duk wiwit prang Ngalengka,
Denya darbe atur,
Mring raka mrig raharja,
Dasamuka tan kengguh ing atur yekti,
De mung mungsuh wanara.
Kumbakarna kinen mangsah jurit,
Mring kang raka sira tan nglenggana,
Nglungguhi kasatriyane,
Ing tekad datan sujud,
Amung cipta labuh Nagari,
Lan nolih yayah rena,
Myang leluhuripun,
Wus mukti aneng Alengka,
Mangke arsa rinusak ing bala kapi,
Punagi mati ngrana.
Tembang
Dandanggula diatas secara garis besar memiliki arti bahwa Kumbakarna adalah
tokoh yang memiliki karakter atau jiwa kesatriya (jw: jiwa utama). Hal ini nampak, ketika Kumbakarna selalu berusaha
menasihati Rahwana agar mengembalikan Sinta kepada Rama, sebab Sinta adalah
milik Rama. Apabila, Rahwana tetap ingin memiliki Sinta dengan cara yang
demikian maka bagaimannapun juga Rahwana berada dalam posisi yang salah, dalam
bahasa jawa ada istilah yang menyebutkan: “sapa
sing dhisiki cidra, wahyune bakal sirna”. Akan tetapi, Rahwana sama sekali
tidak menggubris perkataan Kumbakarna, hingga akhirnya Kumbakarna pergi dari
Alengka dan melakukan Tapa Nendra untuk
mendapatkan petunjuk dari sang Ilahi.
Perang
akhirnya terjadi antara Alengka dengan bala kera prajurit dari Prabu Rama,
setelah prajurit Alengkka sudah terosak-asik oleh pasukan prabu Rama, lalu
Rahwana menyuruh Indrajid anaknya agar membangunkan Kumbakarna bahwa perang
sudah terjadi dan menyuruh Kumbakarna untuk berperang, sebab jika Kumbakarna
tak mau perang maka tak lama lagi Alengka akan dihancurkan oleh Rama dan
prajuritnya. Pada awalnya, Kumbakarna tetap menolak untuk berperang melawan
Prabu Rama, namun karena Kumbakarna memiliki jiwa kesatriya dan nasionalisme
yang tinnggi akhirnya Kumbakarna maju perang menghadapi bala kera. Perlu
diingat, bahwa Kumbakarna ketika berperang ini sama sekali bukan membantu
Rahwana yang jelas-jelas berada dipihak yang salah melainkan membela bangsanya
atau tanah kelahirannya beserta leluhurnya yang telah membesarkan Kumbokarna
dan mendirikan bangsa Alengka.
Penjelasan
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Kumbakarna memiliki karakter yang
tanggung jawab, rela berkorban dan mengedepankan jiwa nasionalismenya.
Sehingga, kisah mengenai tokoh Kumbakarna ini mengandung nilai kepahlawanan dan
patriotisme yang sangat baik untuk ditiru bagi kita khususnya mahasiwa sebagai
generasi muda penerus bangsa.
c. Tokoh Basukarna(Suryaputra)
Tokoh
basukarna atau ketika masih muda bernama Suryaputra merupakan tokoh yang juga
termasuk dari tokoh Tripama menurut
KGPA Mangkoenegara IV, tokoh Basukarna adalah anak dari Dewi Kunthi dengan
Batara Surya. Akan tetapi, karena Basukarna adalah anak yang tercipta diluar
ikatan resmi maka akhirnya Basukarna dibuang ke sungai hingga akhirnya
ditemukan oleh kusir dari Astina bernama Adirata yang kemudian membesarkan
Suryaputra hingga dewasa dan menjadi Senopati di Astina. Berikut tembang
dandanggula yang berisi mengenai Basukarna:
Wonten malih kinarya palupi,
Suryaputra Narpati Ngawangga,
Lan pandhwa tur kadange,
Len yayah tunggil ibu,
Suwita mring Kurupati,
Aneng Nagri Ngastina,
Kinarya gul-agul,
Manggala golongganing prang,
Bratayuda ingadeken senapati,
Ngalaga ing kurawa.
Den mungsuhken kadange pribadi,
Aprang tandhing lan Sang Dananjaya,
Sri Karna suka manahe,
De nggonira pikantuk,
Marga denya arsa males sih,
Ira sang Duryudana,
Marmanta kalangkung,
Denya ngetog kasudiran,
Aprang rame Karna mati jinemparing,
Sumbaga wirutama.
Berdasarkan
tembang macapat tersebut pada intinya berisi tentang tokoh Suryaputra yang juga
patut untuk dijadikan contoh bagi kita, hal demikian dapat kita lihat dari
pengorbanan Basukarna terhadap Duryudana dan negara Astina yang talah
memuliakan hidupnya. Pengorbanan yang dilakukan Basukarna adalah ketika dia
tetap maju perang Baratayuda dipihak Kurawa dan harus melawan Pandawa yang
jelas-jelas Karna mengetahui bahwa Pandawa masih saudaranya sendiri, sama-sama
anak dari Dewi Kunthi. Namun, semua tentunya dilakukan Basukarna dengan penuh
pertimbangan, Basukarna lebih memilih dipihak Kurawa daripada Pandhawa karena
menurut Basukarna Kurawa adalah sosok yang menerima Basukarna apa adanya hingga
akhirnya mengangkat Karna mejadi Senapati.
Sikap
yang diambil oleh Basukarna ini menggambarkan bahwa Basukarna adalah tokoh yang
memiliki karakter tanggung jawab, jiwa striya dan tidak melupakan jasa atau
kebaikan orang lain. Hal ini, nampak jelas bahwa pembelaan Karna dipihak Kurawa
karena disatu sisi selain membela tanah yang telah membesarkannya, Karna juga
merasa berhutang budi pada Duryudana yang telah menerima Karna apa adanya
hingga akhirnya Karna mampu hidup makmur di Astina dan menjadi Senapati dipihak
Kurawa, sehingga Karna memiliki tanggung jawab harus membalas budi semua
kebaikan yang telah diberikan Duryudana kepadanya. Nilai yang terkandung adalah
nilai Kepahlawanan dan kesetiaan.
2. Tokoh Tripama sebagai perspektif
pendidikan karakter bagi mahasiswa
Berdasarkan
penjelasan diatas dapat kita ketahui mengenai karakter tokoh Tripama yang pada
dasarnya ketiga tokoh tersebut memiliki karakter yang sangat mulia, artinya
sangat pantas untuk dijadikan suri tauladan. Nilai yang dapat diambil
diantaranya: nilai kepahlawanan, nilai kesetiaan, nasionalisme, pengorbanan dan
jiwa kesatriya yangg selalu diutamakan. Nilai-nilai inilah yang menurut penulis
sangat relavan apabila dikolerasikan sebagai perspektif pendidikan karakter
bagi mahasiswa dewasa ini khususnya, sebab seperti di awal tadi penulis
menerangkan bahwa peranan mahasiswa atau generasi muda sangat berpengaruh besar
bagi kemajuan atau kemundurun suatu bangsa.
Pendidikan
karakter secara garis besar teridi dari empat pilar, yaitu: UUD 1945, Bhineka
Tunggal Ika, Pancasila dan NKRI. Keempat pilar tersebut pada hakikatnya adalah
sebuah pedoman atau idealisme yang seharusnya memang menjadi sebuah impian yang
sangat perlu dilakukan tindakan secara nyata. Pendidikan karakter yang terdiri
dari empat pilar utama tersebut berdasarkan asumsi penulis seorang mahasiswa
perlu mencontoh dan menjadikan karakter-karakter tokoh Tripama sebagai sebuah
perspektif pendidikan karakter.
Tokoh
Sumantri, adalah tokoh yang memiliki karakter percaya diri, tanggung jawab,
pemberani, jiwa kesatriya yang tinggi dan rela berkorban. Karakter tokoh
Sumantri inilah yang hendaknya mampu ditiru oleh mahasiswa dewasa ini,
berkaitan dengan pendidikan karakter hendaknya seorang mahasiswa harus memiliki
karakter tanggung jawab, artinya tanggung jawab terhadap tugas yang dimilikinya
dan menjalankannya dengan benar, pemberani artinya mahasiswa harus selalu
berani seperti Sumantri dalam menghadapi segala rintangan maupun halagan yang
dihadapinya dan mampu memberikan sebuah solusi, sehingga keberadaan mahasiswa
benar-benar mampu menjadi penerang bagi masyarakat. Seorang mahasiswa juga
harus memiliki karakter rela berkorban, rela berkorban ini tentunya dapat
dihubungkan dengan empat pilar utama tadi yaitu pilar mengenai NKRI, seorang
mahasiswa harus rela berkorban untuk menjaga keutuhan NKRI entah itu dalam wujud
apapun. Sumantri yang selalu menjujunjung tinggi kesetiaan terhadap Rajanya
juga dapat kita contoh dengan selalu bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang
telah ada.
Berikutnya
adalah tokoh Kumbakarna yang sepantasnya juga kita jadikan contoh, sebab tokoh
Kumbakarna adalah tokoh yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Hendaknya
karakter seperti ini selalu tertanam dalam diri mahasiswa, rasa nasionalisme
dapat diwujudkan dengan selalu menjaga perdamainan, menjunjung tinggi idealisme
bangsa seperti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sebab, akhir-akhir ini
nasionalisme mulai kurang diperhatikan sehingga ini menjadi tanggung jawab
besar bagi mahasiswa. Wujud nyata nasionalisme juga dapat dilakukan dengan turut
mendukung serta mencintai aset-aset bangsa termasuk kebudayaan tradisi yang
didalamnya terdapat pertunjukan wayang. Rasa Nasionalisme juga harus selalu
dimiliki mahasiswa seni khususnya mahasiswa pedalangan yang selalu mencintai
pertunjukan wayang dan menjadi tokoh pelestari budaya seni pewayangan, sehingga
seni pertunjukan wayang tidak akan tergeser dengan derasnya budaya barat yag
kurang sesuai dengan kebudayaan kita. Tokoh Kumbakarna memiliki pedoman bahwa “daripada
harus menyerah ditangan penjajah, lebih baik mati menjadi kusuma bangsa”, dari
pernyataan ini tentunya kita mampu mengambil nilai nasionalisme dalam diri Kumbakarna
untuk kita aplikasikan sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa seni(pedalangan)
agar selalu berjuang secara sungguh-sungguh menjaga keutuhan serta melestarikan
kebudayaan tradisi yang didalamnya terdapat pertunjukan wayang.
Tokoh
terakhir dalam Tripama adalah Basukarna, seperti penjelasan diatas kita telah
memperoleh simpulan bahwa tokoh Basukarna adalah tokoh yang memiliki jiwa kepahlawanan,
kesetiaan, selalu mengingat jasa orang lain serta keteguhan hati yang tinggi.
Karakter ini, juga mampu dijadikan perspektif bagi mahasiswa khususnya adalah
mahasiwa seni pedalangan. Seorang mahasiswa hendaknya memiliki jiwa
kepahlawanan yang tinggi, hal ini dapat dilakukan dengan selalu menjaga persatuan dan kesatuan
kemajemukan bangsa seperti yang terdapat dalam empat pillar utama pada
pendidikan karakter yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. Seorang mahasiswa pedalangan hendaknya
juga menempatkan karakter Basukarna yang selalu membela negaranya kedalam mind set mahasiswa sehingga setiap
tindakan yang dilakukan akan selalu berorientasi terhadap rasa cintanya
terhadap wayang untuk selalu menjaga, melestarikan dan mengembangkannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan mengenai tokoh Tripama dalam Serat
Tripama tulisan KGPA Mangkoenegara IV sebagai perspektif pendidikan
karakter bagi mahasiswaa ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tokoh Tripama
yang didalamnya terdiri dari Tokoh Sumantri, Kumbakarna dan Karna adalah tokoh
yang masing-masing memiliki karakter mulia dan baik untuk dijadikan contoh
dalam kehidupan kita. KGPA Mangkoenegoro IV yang secara kemampuan sastra sudah
tidak diragukan lagi. M enurut asumsi
penulis KGPA Mangkoenegara IV mampu menyusun Serat Tripama secara objektif dan disiplin. Intisari karakter mulia
yang dimiliki ketiga tokoh tersebut mampu disuratkan secara indah dalam wujud
tembang yang sangat menarik untuk diresapi dan dilaksanakan. Tembang yang
berisi tentang karakter ketiga tokoh tersebut yang telah dijelaskan pada
pembahasan diatas menurut penulis telah menghasilkan pernyataan-pernyataan
mengenai karakter ketiga tokoh tersebut, yaitu:
Tokoh
Sumantri memiliki karakter pemberani, tanggung jawab, setia, rela berkorban dan
berjiwa satria tinggi. Hal ini, nampak jelas dalam kisah Sumantri ketika akan
mengabdi pada Harjuna Sasrabahu yang kemudian diterima hingga akhirnya harus
mati demi Harjuna Sasrabahu. Kisah ini menggambarkan sebuah nilai yang sangat
bagus untuk dicontoh.
Tokoh
Kumbakarna dalam pembahasan diatas dapat diisimpulkan bahwa Kumbakarna adalah
tokoh yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, hal ini nampak jelas ketika
Kumbakarna rela gugur dalam peperangan demi tanah kelahirannya yaitu Alengka
yang sudah membesarkan jiwa raganya dan bukan membela Rahwana. Kisah ini mampu
memberikan inspirasi bagi kita bahwa walaupun Kumbakarna berwujud raseksa,
namun tindakan serta perilaku yang dimiliki oleh Kumbakarna adalah layaknya
seorang satria tama. Artinya, kita jangan
selalu menilai orang hanya dari luarnya saja melainkan lihatlah dari dalam
hatinya yang sesungguhnya itu adalah aslinya.
Tokoh
Suryaputra atau Basukarna dalam Serat Tripama tersebut dan setelah dilakukan
pembahasan, tokoh Basukarna adalah tokoh yang memiliki karakter pemberani serta
bertanggungjawab terhadap semua yang telah diucapkan. Artinya, Basukarna sudah
mengatakan bahwa dia tetap akan membela Kurawa karena Basukarna mampu hidup
menjadi seorang yang berharga semua juga berkat dari Kurawa yang menerima Karna
apa adanya. Disamping itu, Basukarna juga merasa bahwa dia hidup di Negara
Ngastina sehingga nasionalisme dalam dirinya juga muncul untuk ikut membela
Ngastina dari ancaman mungsuh meskipun itu Pandawa. Tekad bulat yang dimiliki
Karna untuk berbalas budi kepada Duryudana inilah yang juga merupakan perilaku
bijaksana yang juga patut untuk dijadikan tauladan.
Ketiga
tokoh tersebut apabila dikolerasikan dengan pendidikan karakter bagi mahasiswa
tentunya dapat terjalin relevansi yang cukup bermanfaat apabila benar-benar mau
meresapi, memahami dan melaksanakannya. Seorang mahasiswa seyogyanya mampu
menjadikan karakter-karakter yang dimiliki tokoh Tripama sebagai perspektif
atau pandangannya dalam memperbaiki karakter masing-masing individu yang kemudian
diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Sebagai seorang mahasiswa atau generasi
muda yang nantinya memimpin banggsa ini, karakter yang dimiliki oleh tokoh
Tripama merupakan sebuah pandangan penting yang wajib untuk diketahui dan lebih
baiknya mampu melaksanakannya. Tentu pelaksanaannya juga sesuai dengan
kompetensi serta bidang masing-masing, penulis yakin dari nilai-nilai yang
terkandung dalam karakter tokoh Tripama tersebut selalu bisa untuk
diaplikasikan kepada bidang maupun kompetensi apapun, yang membedakan hanya
terletak dari wujud serta tindakan yang harus dilakukan, namun secara konsep
nilai yang mulia sementara ini masih sangat relevan untuk dilakukan terlebih
dijaman sekarang ini.
DAFTAR PUSTAKA
Laeyendecker,
L. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan. Jakarta:
Gramedia, 1983.
Murtiyoso, Sumanto, Suyanto dan Kuwato. Teori Pedalangan, Surakarta: CV. Saka
Production kerja sama dengan ISI Surakarta, 2007.
Soetaro, Sunardi dan Sudarsono. Estetika Pedalangan, Surakarta: CV. Adji
Surakarta bekerjasama dengan ISI Press, 2007.
Langganan:
Postingan (Atom)